KENALI PENYEBAB ANAK MOGOK SEKOLAH & CARA MENGATASINYA

Pagi-pagi ketika semua sibuk mempersiapkan kebutuhan masing-masing untuk berangkat sekolah, tiba-tiba salah satu putra kami diam tak terpengaruh oleh kesibukan tersebut. dia hanya diam dan bermalas-malasan di tempat tidurnya.Kami pun bertanya dengan baik-baik apakah dia kurang sehat atau hal lainnya yang membuat dia tidak bersiap diri untuk berangkat sekolah hari itu. "Bunda, abang ga sekolah ya hari ini, cape katanya. Cape? itulah kata yang terucap saat itu, entah apa yang terjadi kami pun memberikan kesempatan kepadanya  istirahat di rumah.Tapi  kami pun tidak bisa tinggal diam kemudian  mencari-cari informasi atau alasan penyebab mengapa akhir-akhir ini putra kami begitu tidak bersemangat untuk sekolah, sebelum kami ngobrol banyak dengannya nanti sepulang kerja.
Tentu hal ini pernah terjadi atau malah sering dialami oleh para orangtua yang dibuat bingung, kenapa buah hati kita mogok sekolah?Semoga artikel di bawah ini bermanfaat dan memberi inspirasi untuk kita semua.


Anak Anda tiba-tiba mogok sekolah. Bisa jadi, ia memang berpura-pura sakit agar bisa tidak bersekolah. Meski begitu, bisa jadi pula ada beberapa hal yang terjadi. Biasanya, inilah yang umum menjadi alasan sikap anak:


- Ia menjadi korban bullying. Ia selalu disakiti secara verbal, fisik atau emosional oleh seseorang di sekolah. Misalnya, teman sekelas atauanak lain kelas. Kalau dibiarkan berlarut-larut, ia akan kehilangan rasa percaya diri, merasa sangat depresi, dll.

- Bermasalah dengan teman sekelas. Anak merasa tidak diterima, sehingga ia memilih tetap berada di rumah.

- Takut pada gurunya. Misalnya, guru sangat galak, sering menghukumnya, selalu berbicara dengan suara keras, atau menerapkan disiplin yang kaku.

- Pelajarannya sulit. Banyak anak akut ke sekolah gara-gara tidak bisa mengerjakan PR, tidak memahami materi yang diajarkan, dll.

- Punya masalah dalam keluarga. Kematian, perceraian, pertengkaran, atau kekerasan dalam rumah tangga membuat anak lebih memilih berada di rumah sebab ia ingin melindungi salah satu orang tuanya.

- Ia kelelahan. Kebanyakan mengikuti ekstrakulikuler atau les akan menguras habis tenaga anak.

- Rumah lebih seru. Orang tua menyediakan berbagai hal yang disukainya di rumah, seperti DVD, video game, mainan, dll. Belum lagi, ia menyukai beberapa acara TV dan tidak ingin ketinggalan.

Sebenarnya hal ini bisa kita atasi mungkin dengan ajak anak berbicara dan cari kesepakatan bersama. Misalnya, jika anak memerlukan bantuan dalam mengerjakan PR atau membuat proyek, coba luangkan waktu. Kalau kita bekerja, usahakan untuk pulang lebih cepat. Bila masalah berasal dari sekolah, bicarakan dengan kepala sekolah atau guru. Intinya, cari penyebab masalah yang mengganjal anak, lalu carilah solusi terbaik.


(Terima Kasih "Parenting Indonesia")
KIAT MENGATASI ANAK MOGOK SEKOLAH
Jika bukan terjadi di awal tahun, maka adabeberapa kemungkinan penyebabnya seperti ada teman yang usil; guru yang tidak suportif (bersikap galak, mencubit); kegiatan sekolah yang kurang cocok; masalah bahasa (pada anak yang baru mempelajari bahasa, selain bahasa yang dipakainya sehari-hari); kebiasaan yang berbeda; kejadian traumatik (jatuh, kecelakaan, tindak kekerasan); perubahan dalam kehidupan keluarga/di rumah (pindah rumah, kelahiran adik baru, perceraian orangtua, pertengkaran rumah tangga); dan lain-lainnya.

Untuk mencari informasi, orangtua dapat menggalinya dari anak. Cari waktu yang tepat. Cobalah tanya langsung kepada anak, sehingga kita bisa menggali alasannya mogok. Selain itu, kita juga bisa mencari informasi kepada guru atau pengasuh yang setiap hari bersamanya. Dengan begitu, informasi yang didapat bisa lebih tepat dan akurat.  Setelah penyebabnya diketahui, cobalah cari jalan keluarnya. Jangan segan untuk meminta bantuan guru, pengasuh, dan psikolog guna mendapatkan solusi terbaik.
* Tetap suportif
Cobalah pahami apa yang dialami anak. Berikan empati; saat dia dijahili temannya, orangtua dapat memberikan dukungan sekaligus menegaskan, tindakan temannya itu keliru.
* Memperkuat daya tahan psikologis
Dengan begitu, anak akan lebih tahan saat menghadapi berbagai peristiwa traumatis yang mungkin terjadi. Antara lain:
  • Membentuk rasa percaya diri anak dalam menghadapi berbagai tuntutan.
  • Menerapkan pola asuh yang tepat sehingga anak tahu mana yang salah dan benar.
  • Menggali dan mendukung kemampuan anak di berbagai bidang sehingga ia memiliki rasa kompetensi (bisa melakukan sesuatu).
  • Memberikan waktu khusus berkualitas untuk mencurahkan kasih sayang meski orangtua sibuk.
  • Setia mendengarkan pemikiran dan perasaan anak. Dengan begitu, anak akan merasa ada sosok yang dapat melindungi dan bisa dijadikan tempat curhat.
  •  Mendorong anak untuk mandiri sesuai kemampuannya. Misalnya, membereskan mainan/alat tulisnya, menggosok gigi, makan, dan menyelesaikan tugas-tugasnya sendiri sesuai kemampuan. Semuanya dilakukan sendiri dengan bantuan minimal dari orang dewasa.
  • Tidak mencap/menilai anak secara negatif.
* Mengajari anak berani mengungkapkan pendapat dan perasaannya
Bila ada peristiwa yang dapat menurunkan motivasinya bersekolah, maka ia bisa langsung bercerita. Biasakan juga setiap hari orangtua menanyakan apa saja yang anak lakukan di sekolah, serta bagaimana perasaannya saat itu. Hal ini akan membantu anak untuk terbiasa mengekspresikan dirinya secara baik.
* Bekali anak dengan pengetahuan tentang berbagai kejadian yang mungkin akan dialami ketika berada di sekolah
Dari peristiwa yang bersifat positif (kegiatan yang menyenangkan, guru dan teman yang baik) sampai peristiwa yang bersifat negatif (teman yang bandel/usil, tak sengaja jatuh ketika berlari, guru yang tidak sempat membantu ketika membuat tugas).
* Beritahu anak apa yang harus ia lakukan terutama jika mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan
Misal, “Jika ada teman yang menarik tanganmu, kamu bilang dulu sama temanmu, ‘Jangan begitu, aku enggak suka, tanganku jadi sakit.’ Nah, kalau teman kamu tetap menarik-narik tanganmu, maka kamu bisa bilang kepada Ibu Guru tentang hal itu. Jangan lupa, di rumah kamu cerita sama Mama dan Papaya, Nak.”
* Ajari anak untuk mengatakan tidak/menolak perilaku orang lain yang tidak diinginkannya
Berilah contoh perilaku-perilaku yang tidak diinginkan itu dan bagaimana cara menolaknya. Misal, jika ada teman yang mencoret kertas miliknya, ajari anak untuk berkata, “Kamu jangan mencoret punyaku. Coret di kertasmu saja.” Bila cara ini tetap tidak berhasil dan teman itu tetap mengganggu, ajari anak untuk mendatangi gurunya dan mengadukan kejadian tadi.
(Terima Kasih "Nakita")

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kenapa Si Kecil Rewel Dan Cara Mengatasinya

Masih susah bicara bikin si batita gampang frustrasi. Sedikit-sedikit menangis, menjerit, kadang disertai amukan. Perilaku ini sering tak kenal waktu dan tempat. Penyebabnya kadang juga membingungkan. Apa saja sih? Nah, coba deh kenali 9 sumber kerewelan anak batita dan cara jitu mengatasinya!

bunda...kok sibuk aja....nulis diblog...hik...hik...hik 

1. REWEL KALA SAKIT
Wajar jika anak rewel kala sakit. Diberi ini salah, diberi itu salah. Kondisi tak nyaman membuat anak uring-uringan. Tak heran, semua itu bisa mengubah perilaku anak. Si kecil yang tadinya aktif dan ceria, mendadak murung dan cengeng. Anak pun jadi lebih manja.
Cara Mengatasi:
- Bersabarlah menghadapinya. Anak sakit lebih membutuhkan banyak perhatian ketimbang anak sehat. Jadi, dampingi selalu si kecil. Jalinlah komunikasi yang hangat dan menghibur. Tanyakan, apa yang dia rasakan. Sedapat mungkin berikan beberapa pertolongan kecil, seperti mengusap-usap perut atau mengipasi. Jika perlu, dekaplah dia dengan penuh kasih. Ciptakan suasana aman, hingga anak merasa nyaman dan tidak bosan.
- Sikap sabar juga perlu dikedepankan saat memberi makan dan obat. Jika anak menolak makan, tak perlu dipaksa, melainkan disuapi sedikit demi sedikit. Buatlah menu makanan yang lembut dan mudah dikunyah. Hal yang sama berlaku buat obat. Katakan, obat harus diminum agar anak bisa sehat dan bisa bermain kembali.
- Buat juga suasana menyenangkan. Hindari menunjukkan kesedihan di depan anak. Lakukan kegiatan bermain yang disukainya. Membacakan dongeng favorit bisa menjadi pilihan. Sediakan juga mainan yang bisa dilakukan di tempat tidur seperti boneka tangan, mewarnai, melipat kertas, nonton teve atau film kesayangan, dan sebagainya. Namun, waktu bermain tetap harus dibatasi, karena anak membutuhkan istirahat agar cepat sembuh.

2. REWEL DI TEMPAT BARU/ASING

Meskipun dinilai wajar, perilaku ini sering membuat kesal orangtua. Anak rewel karena merasa tak nyaman dengan kondisi baru. Tak jarang, kondisi itu dirasakan anak sebagai sesuatu yang mengancam. Terlebih jika anak belum mengenal kondisi tempat baru itu sebelumnya, juga fasilitas yang ada. Saat anak diajak ke tempat praktik dokter, misal, dia tentu bingung dengan ruangan serba putih, dan terdapat berbagai peralatan “aneh” macam jarum suntik, stetoskop, mesin USG, dan sebagainya.
Cara Mengatasi:
Sebelum mengajak si kecil pergi, orangtua perlu membekali anak mengenai tempat apa yang akan dituju, kondisi apa sajakah yang akan ditemui anak, apa pula benda-benda yang terdapat di sana. Sering-seringlah bepergian ke tempat baru bersama si batita. Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin kaya dan luas pengalaman anak.

3. REWEL KALA BERTAMU

Sering kan menghadapi batita yang merengek-rengek minta pulang kala diajak bertamu, “Pulang… Ma… pulang….” Kerewelan ini disebabkan si batita menganggap, rumahku adalah surgaku. Tiada tempat yang paling indah dan nyaman selain rumah. Apalagi jika lingkungan rumah benar-benar menyenangkan; luas, sejuk, dan banyak mainan. Selain itu, banyaknya sosok asing di rumah orang lain membuat anak enggan berlama-lama. Belum lagi rumah itu kurang menyenangkan seperti sempit, gerah, dan sumpek.
Cara Mengatasi:
- Buatlah anak merasa nyaman. Sebelum pergi, bekali si kecil dengan banyak mainan. Jika di rumah yang dikunjungi ada anak kecil, ajak bermain bersama si kecil. Perhatikan juga kondisi tubuh anak. Jika terlihat lelah, biarkan dia beristirahat sejenak.
Setelah cukup, orangtua bisa mengeksplorasi lingkungan rumah yang dikunjungi. Siapa tahu banyak hal menarik yang bisa ditemukan seperti ada kolam ikan, taman, dan sebagainya.
- Ajari anak bersosialisasi dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau teman, sehingga dia terbiasa mengunjungi rumah orang lain.

4. REWEL SAAT ADA IBU

Kerewelan justru terjadi saat ibu ada di rumah. Biasanya disebabkan anak meminta perhatian lebih. Maklum, ibu yang bekerja umumnya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Keberadaan ibu membuat si batita menuntut macam-macam. Apalagi, ibu bekerja biasanya menerapkan aturan lebih longgar dan minim memberikan punishment, juga selalu memanjakan anak. Nah, bagi anak, ini merupakan aji mumpung untuk melanggar aturan atau memaksakan kehendak.
Cara Mengatasi:
- Bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan adalah solusinya. Jika ibu menerapkan aturan tidak boleh menonton teve hingga larut malam, maka semua yang ada di rumah harus menerapkan aturan itu. Ini untuk mengajari si batita, mana yang benar dan mana pula yang salah. Sikap tega dan tegas harus dikedepankan. Jika ibu dan pengasuh atau anggota keluarga lain di rumah berbeda pola asuh, anak cenderung memilih aturan yang dirasa paling enak. Namun jika ibu dan semua anggota keluarga konsisten, maka si batita tidak akan berulah di setiap akhir pekan, atau kala ibu ada di rumah. Disiplin dan rutinitas batita akan terbentuk dengan baik. Berikan sanksi mendidik jika perlu. Selain itu, jangan sungkan memberikan penghargaan jika anak bisa melakukan rutinitas dengan baik. Penghargaan tidak melulu berbentuk hadiah, tapi juga berbagai bentuk lainnya seperti pelukan, ciuman, atau pujian. Dengan demikian, batita akan selalu mengulangi perilaku positif, sekaligus menjauhi sikap negatifnya.

5. REWEL SAAT ARISAN

Dalam kondisi tertentu, orangtua kadang terpaksa mengajak batitanya ikut serta arisan. Namun si batita tak bisa duduk manis selama acara berlangsung. Bahkan, tak sedikit anak berbicara sambil berteriak-teriak atau berlarian ke sana kemari. Banyak orangtua yang kesal dan langsung memarahi si batita. Padahal, tindakan memarahi malah dapat memberikan dampak yang tak baik bagi si batita. Selain membuatnya jadi rewel, bukan tak mungkin anak menganggap acara arisan tidaklah menyenangkan. Ia pun kapok jika suatu saat orangtua mengajaknya serta.
Cara Mengatasi:
- Sebetulnya, wajar saja bila si batita tak dapat duduk manis berlama-lama. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motoriknya. Makanya, dia tak bisa diam. Lagian, anak juga bukan orang dewasa mini yang bisa duduk lama dengan tenang. Acara arisan juga tidak menarik di mata anak. Yang dapat dilakukan adalah menyalurkan energi anak di luar ruangan. Ajak anak bermain di luar ditemani pengasuhnya. Lakukan beberapa permainan yang menyenangkan. Jika kebetulan orangtua lain membawa serta anak, biarkan si kecil berbaur bersama mereka dengan didampingi pengasuhnya.

6. REWEL KALA DITINGGAL ORANGTUA

Sulit kan jika anak tidak mau ditinggal pergi? Walhasil, banyak aktivitas orangtua yang batal gara-gara anak. Di usia ini, anak sedang mengembangkan sikap kelekatan. Jika anak menganggap orangtua adalah sosok paling dekat, maka sulit baginya untuk berpisah, maunya menempel melulu. Anak merasa tidak aman jika diasuh oleh sosok lain.
Cara Mengatasi:
- Berikan penjelasan. Jika ibu harus meninggalkan anak pergi berbelanja, katakan, “Mama mau pergi ke pasar. Tidak lama, kok, nanti Mama pulang dan bisa main lagi sama Adek.” Cara itu akan membuat anak mengerti, orangtua pergi hanya untuk sementara waktu.
- Hindarkan pergi secara sembunyi-sembunyi, bahkan berbohong. Itu bisa membuat anak semakin rewel, bahkan muncul ketidakpercayaan dalam dirinya.
- Agar anak tak terlalu merasa kehilangan, biarkan dia terlibat dalam sebuah kegiatan yang mengasyikkan seperti corat-coret. Biasanya, anak akan larut dalam aktivitasnya dan tidak terlalu memedulikan kepergian orangtua.

7. REWEL SETIAP KALI DIAJAK PERGI

Banyak orangtua yang pusing sekaligus kesal saat mengajak anaknya pergi. Itu semua terjadi karena si batita masih sulit mengendalikan emosinya. Selain orangtua juga mesti mengetahui penyebab kerewelan anak, semisal mood-nya sedang buruk. Atau, siapa tahu orangtua terlalu heboh saat mengajak anak bepergian, umpama, memburu-burunya mandi dan berpakaian. Ketergesaan itu menyebabkan anak tidak nyaman, lalu mengekspresikannya dengan sikap rewel. Sebab lain, mencari perhatian orangtua.
Cara Mengatasi:
Atasi berdasarkan penyebabnya. Bila dikarenakan suasana hatinya kurang baik, bangkitkanlah mood-nya. Jelaskan, perjalanan dan tempat tujuan sangat menyenangkan. Beritahukan hal-hal menarik apa saja yang bisa ditemui anak di tempat tujuan, seperti melihat sawah milik kakek, kerbau, dan sebagainya. Demikian juga kala di perjalanan. Jelaskan beberapa hal menarik yang bisa ditemui, misal, dengan menggunakan mobil sendiri, anak bisa melihat pemandangan. Jangan lupa, bawa serta mainan untuk di perjalanan. Atau, selama perjalanan orangtua bisa membuat aneka permainan menarik. Kalau memungkinkan, hindari mempersiapkan kepergian dengan terburu-buru, agar anak menganggap bepergian adalah hal yang menyenangkan.

8. REWEL SETIAP PAGI

Ada beberapa batita yang bersemangat setiap bangun pagi, di sisi lain banyak juga batita yang justru rewel. Menangis dengan berteriak, bahkan beberapa bersikap manja. Ini bisa disebabkan bermacam-macam hal. Boleh jadi sehari sebelumnya si batita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga pengalaman itu masih membekas saat terbangun. Jangan-jangan anak juga mendapat mimpi buruk. Atau, si kecil terlalu lelah atau sedang sakit, hingga dia mengekspresikan perasaan tidak nyamannya dengan sikap rewel. Rewel adalah tanda anak lelah, mengantuk, sakit, kecewa, sedih, dan lain-lain.
Cara Mengatasi:
- Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu, anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
- Orangtua jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang dan santai.
- Bila ibu sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi rutinitasnya setiap pagi.
- Ciptakan suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat terbangun dari tidur.

9. REWEL SAAT NAIK KENDARAAN UMUM

Naik bis, angkutan kota, atau kereta api? Pasti banyak orangtua yang memiliki pengalaman tak menyenangkan dengan ulah si batita. Sepertinya angkutan umum bak “neraka” buat anak. Dia ingin cepat-cepat keluar dari dalamnya. Apalagi jika perjalanan harus memakan waktu berjam-jam, kerewelan anak pun semakin bertambah. Semua itu terjadi karena anak merasa bosan berlama-lama di angkutan umum. Ketiadaan aktivitas sangatlah menjenuhkan bagi anak usia ini. Ia pun lalu mengungkapkannya dengan kerewelan. Apalagi jika angkutan umum itu tidak berpendingin udara, sempit, dan sesak.
Anak juga rewel karena merasa tidak nyaman bertemu dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Selain itu, anak usia ini bukan tipe “pertapa” yang bisa duduk berlama-lama. Anak sedang dalam masa eksplorasi. Keinginannya adalah bergerak dan terus bergerak. Ini tidak hanya berlaku untuk anak laki-laki, tapi juga perempuan.
Cara Mengatasi:
- Kerewelan anak bisa terjadi hanya saat pertama kali, tapi juga bisa setiap kali naik angkutan umum. Rewel saat pertama kali naik angkutan umum adalah wajar. Yang dapat dilakukan orangtua adalah membuat anak nyaman di angkutan umum. Dengan demikian, anak pun tidak rewel lagi.
Orangtua bisa mengajak anak mengobrol agar tak bosan. Jika mungkin, bisa juga diperdengarkan musik kesukaannya. Tentu dengan tak mengganggu penumpang lain. Ceritakan semua pemandangan yang ditemuinya saat di jalan. Ladeni semua pertanyaan anak dan puaskan rasa ingin tahunya.
Hal penting lainnya, bawa bekal makanan dan minuman yang cukup, di samping membawa beberapa mainan favorit anak. Pilih mainan yang sekiranya bisa dimainkan di angkutan umum.



*Sumber: http://keluargasehat.wordpress.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS